Jalan Sampah

Pada Sabtu, 10 April 2010

Ketika terbangun di pagi hari, hal yang aku bayangkan adalah aktifitas yang menyebalkan yang akan kualami. Kuliah dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB, pulang naik angkot yang ngetem-nya lama, panas dan penuh sesak. Ditambah lagi aku harus melewati barisan panjang mobil dan motor yang terkena macet pada saat jam pulang kerja. Tapi hari ini aku beruntung, ada pangeran berkuda besi yang bersedia mengantarku pulang.

Tumpukan sampah di sekitar Pasar Ciputat

Dalam perjalanan pulang aku dihadapkan pada sesuatu yang menurutku tidak biasa ketika melewati terowongan Pasar Ciputat. Barisan panjang mobil dan motor bertemu pada satu titik, yang menyebabkan macet total.

“Ada apa ini? Tidak biasanya macet total seperti ini,” tanyaku dalam hati.

Ih, kenapa nih? kok nggak bergerak?!” tanya orang yang memboncengiku.

Pikiranku semakin kacau, otakku semakin disibukkan dengan bebunyian tidak beraturan yang menurutku tidak perlu, yaitu suara-suara klakson mobil dan motor yang tiada henti menyakitkan kupingku. Untung ada pangeran berkuda dihadapanku, diri ini bisa saja dibuat tersenyum oleh ulahnya.

Sesampainya di ujung terowongan, aku melihat tumpukan sampah yang menutupi badan jalan menuju arah Ciputat. Sebelumnya, badan jalan terdiri dari dua sisi. Masing-masing lebarnya 5 meter, tapi kini satu badan jalan tertutup oleh padatnya sampah yang masalahnya tak kunjung usai.

Tumpukan sampah menutupi badan jalan menuju Ciputat dan  menyebabkan kemacetan

Melihat kejadian di luar batas kewajaran itu, insting jurnalis Faraby Ferdiansyah (Aby), si pangeran berkuda besi yang memboncengiku, langsung terpancing. Kebetulan ia sedang membawa kamera. Dia pun langsung memarkirkan motor dan mulai beraksi.

Aku tidak mau kalah dengannya,  ketika Aby sedang mengambil gambar, aku pasrahkan tubuh ini berada dekat sampah. Akuu mencari informasi dengan bertanya kepada orang sekitar perihal sampah yang menggunung itu. Aku berjalan menuju warung bubur kacang hijau yang berada tepat di samping tumpukan sampah, tapi ternyata tidak ada orang di sana.

Lalu aku menghampiri pria berkulit hitam dengan mata yang merah berkisar umur 27 tahun, aku bertanya padanya “Bang, sampah ini menumpuk sejak kapan?” Pria itu hanya tersenyum dan berkata “Saya nggak tau, Neng,” dari raut wajah dan badannya yang sempoyongan, aku berspekulasi bahwa pria ini sedang mabuk. Kemudian aku melihat bapak tua dengan rambut dan kumis yang telah memutih sedang berdiri tepat di samping tumpukan sampah yang menutupi badan jalan, dengan sok kenal aku menegurnya, “Assallamualaikum Bapak, apa kabar?” beruntungnya bapak itu sangat ramah dan menerima kehadiranku. Lalu aku membuka obrolan dengannya. Bapak tua tersebut bernama Ade, beliau berusia 60 tahun.

Menurut Pak Ade, sampah tersebut menumpuk sejak Jum’at, 26 Maret 2010 hingga hari ini selasa, 30 Maret 2010. Sampah di sekitar Pasar Ciputat tersebut tidak hanya berasal dari pedagang di Pasar Ciputat saja, tetapi juga berasal dari warga Ciputat. Biasanya mereka membuang sampah ketika hendak berangkat kerja. Mereka melintas di sekitar Pasar Ciputat dengan membawa sampah lalu dilempar begitu saja ke tumpukkan sampah yang ada. Tidak hanya itu, beberapa pedagang dan orang yang melintas sering meletakkan sampah di sepanjang trotoar Pasar Ciputat dan trotoar fly over, “Wah.. Neng, kalo Subuh dari ujung ke ujung sampah semua,” ucap Pak Ade.

Tumpukan sampah yang ada tidak hanya menutupi badan jalan, bahkan jalanan yang rusak dan berlubang pun tertutup oleh timbunan sampah. Tentu saja tumpukan sampah itu menimbulkan aroma yang tidak sedap dan dikhawatirkan menjadi sumber penyakit melihat banyaknya belatung yang muncul dari tumpukan sampah dan menjalar ke dalam Pasar.

Tumpukan sampah di depan sebuah sekolah

Volume sampah yang membludak tidak sebanding dengan datangnya truk pengangkut sampah, sehingga sampah bertumpuk dan menutupi badan jalan menuju Ciputat yang menyebabkan jalur menuju Kedaung macet total.

Menurut informasi yang aku dapat, truk pengangkut sampah di Pasar Ciputat ada dua, truk berwarna kuning yang biasa digunakan untuk mengangkut sampah di daerah Tangerang dan truk pengangkut sampah berwarna biru khusus wilayah Tangsel, namun ketersediaan truk ini pun kurang memadai.

Semenjak Tangsel (Tangerang Selatan) berpisah dengan Tangerang, Tangsel selalu bermasalah dengan sampah, karena Tangsel tidak mempunyai Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kemacetan yang terjadi di ruas jalan menuju Kedaung

Selama ini sampah dari Tangsel dibuang ke wilayah Bantar Gebang, Bekasi, dengan membayar satu juta rupiah setiap mengangkut sampah itu. Namun hal ini nampaknya tidak berlangsung dengan baik hingga saat ini, sebab sampah-sampah masih menumpuk.

Beberapa waktu lalu, sempat terlihat mesin pengolah sampah yang disewa beberapa hari oleh Pemda setempat, tapi ternyata mesin tersebut tidak efektif untuk mengurangi sampah yang ada, hanya untuk menghaluskan/mengecilkan sampah, bukan mengangkut sampah.

Penumpukan sampah ini bisa menjadi peringatan bagi kita untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga lingkungan sejak dini.

Oleh Silvia ‘Bociel’ Maulina
Foto: Farabi Ferdiansyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: