Ada Majelis Souvenir di Jurang Mangu Ciputat, Tangerang Selatan

oleh : Renal Rinoza Kasturi

Foto : Renal Rinoza Kasturi & Faraby Ferdiansyah

16.02.10

Iring-iringan sepeda motor berdatangan tepat pukul 21.00 WIB. Sebuah jalan sempit yang berlokasi di Panti Asuhan Al-Ikhwaniyyah Kampung Ceger, Jurang Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan pada malam itu ramai sekali, dalam rangka menghadiri ceramah yang ingin disampaikan oleh ulama panutan mereka yaitu Habib Munzir Al-Mussawa dan KH. Saifudin Amsir. Para jamaah berdatangan dari segala penjuru Jabodetabek. Tabligh Akbar dilangsungkan di sebuah lapangan yang cukup untuk menampung sekitar 3000 jamaah dan diperkirakan jamaah yang memenuhi Tabligh Akbar tersebut berkisar 5000 orang termasuk bagi mereka yang tidak mendapatkan tempat di lapangan. Bagi para jamaah yang tidak mendapatkan tempat di lapangan, panitia telah menyediakan sebuah layar berukuran 3×4 meter yang merekam penyampaian ceramah melalui media audio visual.

Jamaah majelis Rasulullah
Jamaah majelis Rasulullah

Tabligh Akbar ini diselenggrakan oleh Barisan Muda Ceger (BMC) dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad Saw. Antusiasme jamaah yang berdatangan tak lekang oleh kondisi jalan yang becek dan sempit untuk ukuran 5000 orang. Segala kekurangnyamanan ini rupanya tak menyurutkan antusiasme dalam mendengarkan ceramah Habib pujaan mereka.

Jamaah berjumlah ribuan orang
Jamaah berjumlah ribuan orang
Jamaah yang tidak dapat masuk, menyaksikan khotbah sang habib dari layar audio visual yang telah disediakan panitia
Jamaah yang tidak dapat masuk, menyaksikan khotbah sang habib dari layar audio visual yang telah disediakan panitia

Sebelum saya mengupas lebih jauh Tabligh Akbar Majelis Rasulullah Saw ini menurut saya ada baiknya kita tengok dulu bagaimana konteks historis para habib yang dalam masyarakat kita benar-benar dikultuskan sebagai seorang yang alim.

Fenomena Habib di Indonesia bukanlah hal yang baru, mereka telah hadir sejak ratusan tahun silam di bumi Nusantara melalui saluran perdagangan. Di kalangan masyarakat Indonesia, gelar ‘Habib’ dinisbatkan secara khusus yang mempunyai garis keturunan langsung Nabi Muhammad SAW melalui Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib ra. Dari garis keturunan inilah berkembang anak cucu Nabi Muhammad SAW yang hijrah dari Basrah Iraq ke Hadramaut Yaman. Di antara keturunan yang masih bertahan di Hadramaut ialah Alwi Al-Awwal sedangkan dua putra dari Ubaidilah yaitu Jadid dan Ismail tidak memiliki keturunan. Melalui nasab Alwi Al-Awwal inilah mereka menamai dirinya kaum Alawiyin. Keturunan mereka berhasil menguasai dan menjadikan Hadramaut sebagai kota yang terang berderang dengan cahaya iman yang sebelumnya banyak kesesatan di kota ini.

Habib Munzir Almussawa
Habib Munzir A l-Mussawa

Setelah bermukim lama di Hadramaut kaum Alawiyin ini kemudian meyebar dan menyiarkan Islam ke beberapa daerah di sepanjang pantai timur Afrika, India dan lalu masuk menyebar ke Asia Tenggara. Dari India kaum Alawiyin terutama keluarga Abdul Malik ini melanjutkan perjalanannya ke Nusantara dan dari sinilah kita dapat melihat asal muasal keturunan yang menyebarkan Islam di Nusantara. Untuk pertama kalinya mereka mendarat di pesisir pantai Aceh yang selanjutnya menyebar ke berbagai daerah Nusantara lainnya. Mereka menyebar dan menetap ke beberapa daerah seperti di Batavia, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Surabaya. Persebaran etnis Arab Hadramaut ini tidak hanya di enam kota tersebut tetapi juga menyebar ke beberapa daerah di Jawa lainnya seperti di Sumenep Madura, Bangil Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Besuki dan Banyuwangi bahkan ada yang sampai ke Sulawesi.

Dari beberapa keturunan silsilah bani Awaliyin ini banyak kita kenal keluarga Alatas, Assegaf, Alkaf, Alaydus, Al-Habsyi, Al-Haddad, Syahab, Al-Jufri, Al-Mussawa, Al-Hadi, Bin Syekh Abubakar, Bin Smith, Bin Yahya, Al-Zahir, Shihab, Bin Aqil, Al-Aidid, Albar, Jamalullail, Assiry,  Al- Attas, Bawazier, Al Masyhur, dan sebagainya yang mempunyai garis nasab pada Alwi Al-Awwal bin Ubaidillah bin Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Muhammad Al-Naquib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Al-Shaddiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain al-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib.

Sayangnya penyampaian ceramah Habib Munzir Al-Mussawa tidak dapat kami ikuti dari awal dan aku pun hanya mendapatkan sepenggal ceramahnya saja, karena Habib Munzir tidak dapat berlama-lama dan malam itu juga beliau bertolak ke Cikampek untuk berceramah lagi di sana. Ketika Habib Munzir berpamitan dan turun dari atas panggung, tanpa ada yang mengomandoi para jamaah langsung menyerbu Habib Munzir untuk bersalaman dan terlihat penjagaan yang sangat ketat oleh pengawal beliau untuk menghindari Habib dari kerumunan jamaah. Pengawalan tersebut tak ubahnya seperti pengawalan para pejabat dan pesohor lainnya, mungkin ini dapat dimaklumi untuk melindungi Habib Munzir dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ditengah-tengah kerumunan yang ingin bersalaman secara spontan aku langsung memotret Sang Habib sebisa mungkin untuk mendapatkan gambar beliau hingga ia masuk ke dalam mobilnya.

Acara Tabligh Akbar tak berhenti di situ. Setelah Habib Munzir berpamitan untuk bertolak ke Cikampek, Tabligh Akbar pun dilanjutkan dengan dengan tausyiah dari KH. Saifudin Amsir, ulama asli Betawi yang sangat disegani dan dihormati karena kealiman dan keilmuannya.

Banner ucapan selamat datang bagi para jamaah
Banner ucapan selamat datang bagi para jamaah

Para jamaah dengan khidmat mendengarkan tausyiah KH. Saifuddin Amsir yang dalam ceramahnya mengangkat persoalan aqidah umat Islam saat ini. Menurutnya jaman sekarang dan akan datang banyak sekali terjadi kesesatan-kesesatan yang melanda sebagian umat. Beliau prihatin dengan kondisi umat Islam dewasa ini yang terjebak dalam kemusyrikan seperti mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi dan bahkan Tuhan sekalipun. KH. Saifudin Amsir bergumam dengan khas Betawinya membuat para jamaah tertawa. Sepanjang jalan masuk menuju lokasi Tabligh Akbar sudah banyak ditemui berbagai umbul-umbul dan spanduk yang bertuliskan ahlan wasahlan tepat terbentang di atas Jalan Ceger Raya Pondok Aren, jalan yang menjadi penghubung utama ke lokasi Tabligh Akbar karena di jalan inilah baik jamaah yang berdatangan dari arah barat seperti Sudimara, Ciputat dan Serpong maupun yang berdatangan dari arah timur seperti Ciledug, Bintaro dan DKI Jakarta bertemu dan masuk ke lokasi Tabligh Akbar di Jalan Panti Asuhan Al-Ikhwaniyyah. Beberapa meter dari lokasi Tabligh Akbar dapat kita jumpai aneka penjual souvenir dan aksesoris seperti jaket, tasbih, gelang, stiker, poster, minyak wangi, buku-buku kumpulan ceramah, shalawat, gantungan kunci, DVD Ceramah, helm, rompi, baju koko dan sebagainya. Berbagai aneka souvenir tersebut dijual berkisar antara Rp.3.000,- hingga Rp.300.000,-. Para pedagang yang berjualan di Tabligh Akbar ini terbagi atas pedagang resmi dan tidak resmi. Tetapi dari keseluruhan pedagang sama-sama berjualan setiap kali acara yang digelar oleh Majelis Rasulullah Saw.

Antusiasme jamaah membeli souvenir yang dijajakan
Antusiasme jamaah membeli souvenir yang dijajakan
Banyak pedagang yang berjualan di acara ini, slah satunya penjual parfum
penjual minyak wangi

Ada tiga pedagang yang mengusik keingintahuanku karena barang-barang yang mereka jual menarik bagiku, rasa penasaran itu pun segera terjawab setelah aku berbincang-bincang dengan ketiga pedagang tersebut. Mereka menjual produk yang sama namun bagiku ada beberapa yang membedakannya. Perbedaan mengenai pedagang resmi dan tidak resmi bagiku tidak masalah, toh keduanya sama-sama menggantungkan pundi-pundi keuntungannya dari kocek para jamaah yang tergoda untuk membeli aneka barang yang dijual. Dari ketiga pedagang tersebut, aku berkenalan dan berbincang-bincang dengan Pak Sudarso bersama Istrinya Bu Mutamakin yang berasal dari Wonosobo dan Purwodadi Jawa Tengah. Suami istri ini sudah 3 tahun berdagang aneka souvenir yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya tergantung di mana lokasi Tabligh Akbar maupun Majelis Akbar mingguan diselenggarakan. Bagi mereka itu sudah biasa dan tidak ada masalah, asal lokasinya masih berada di sekitar Jabodetabek.

Pak Sudarso dan Bu Mutamakin, penjual souvenir
Pak Sudarso dan Bu Mutamakin, penjual souvenir

Pak Sudarso dan Bu Mutamakin mengatakan kepadaku bahwa mereka berjualan tidak di acara satu habib seperti Habib Munzir saja, melainkan kegiatan-kegiatan habib lainnya seperti Habib Hasan bin Ja’far Assegaf pimpinan Majelis Nurul Mustofa, Kebagusan Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan peringatan haul Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi di Solo, Jawa Tengah. “Loh.. tadi katanya berjualan cuma daerah sekitar Jabodetabek saja?”. Pertanyaan inilah yang terlontar ketika Pak Sudarso menjelaskan kemana saja ia berjualan. Dengan tenang dan suara agak pelan ia mengatakan bahwa Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi adalah habib yang sangat dimuliakan karena mendiang Habib Anis mempunyai keluhuran budi yang tinggi dan pada peringatan haul-nya (tahun di mana beliau meninggal), di daerah Pasar Kliwon, Solo, ribuan jamaah banyak yang berdatangan, aku pun memaklumi alasan Pak Sudarso berdagang ke sana. Tentu saja secara akumulatif keuntungan berdagang bertambah naik. Pak Sudarso bersama istri juga tak ketinggalan berdagang di berbagai peringatan Haul habib-habib lainnya seperti Habib Husein bin Abubakar Alaydrus Luar Batang yang terkenal dengan Masjid Luar Batang yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara. Masjid Luar Batang terkenal sebagai situs cagar budaya yang bersejarah dan keramatnya. Pak Sudarso juga menceritakan kepadaku bahwa ia berdagang pada perhelatan Haul habib-habib lainnya termasuk peringatan Haul Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad yang tersohor dengan julukan Habib Muncung yang dimakamkan di Kalibata, Jakarta Selatan.

Stiker Majelis Rasulullah
Stiker Majelis Rasulullah

Kalau dikalkulasi, omset berdagang yang diperoleh Pak Sudarso berkisar Rp.600.000,- per hari. Omset tersebut sudah cukup untuk modal belanja aneka jenis souvenir di grosiran. Bahkan kata Bu Mutamakin untuk aksesoris seperti gelang, dibuat sendiri dan manik-maniknya tinggal beli di Pasar Batu Mulia, Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, Pasar Tanah Abang, dan Pasar Asemka, Jembatan Besi, Jakarta Barat, yang lokasinya tidak jauh dari Stasiun Kota.  Pasar-pasar tersebut memang khusus menjual berbagai aneka batu-batuan, perhiasan, ATK, Tas, casing handphone, mainan anak, dan sebagainya, yang dijual secara partai besar alias grosiran. Omset yang didapat oleh Pak Sudarso ternyata juga dapat disisihkan untuk menabung, mungkin uangnya dapat membiayai anak bungsunya yang masih menimba ilmu di sebuah pesantren di Desa Selo Grobogan, Jawa Tengah, katanya sambil menambahkan bahwa desanya di Selo asal muasalnya diambil dari nama Ki Ageng Selo dan dengan bangga Bu Mutamakin bergumam bahwa ia adalah keturunan Ki Ageng Selo. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa Ki Ageng Selo ini? Oh, ternyata berdasarkan Babad Tanah Jawi yang kutelusuri, ia adalah seorang keturunan Raja Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Ki Ageng Selo ini termasyhur dengan kesaktian mandragunanya yang dapat menaklukan petir dan bagi masyarakat Jawa, kesaktian Ki Ageng Selo ini diabadikan dalam ornamen pintu masuk Masjid Agung Demak.

Helm yang dijual berkat kerjasama antara Majelis rasulullah dengan BMC
Helm yang dijual berkat kerjasama antara Majelis rasulullah dengan BMC

Aku berkutat pada aneka jenis dagangan dan cerita-cerita menakjubkan dari pengalaman mereka berdagang sambil menambah pengetahuan baruku tentang daya magis para habib. Seperti terkesima aku mendengarkan cerita supranatural yang berisikan berbagai macam karomah dan betapa keramatnya habib-habib tersebut di samping cerita mengenai Ki Selo tadi. Kakiku berhenti di sebuah lapak yang hampir sama menjual barang-barang seperti yang dijual oleh Pak Sudarso dan Bu Mutamakin. Bedanya, di sini aku penasaran dengan harga-harga barang tersebut. Kebetulan yang berjualan juga sepasang suami istri. Namanya Bu Hj. Sri Wahyuningsih. dan H. Sugiarso yang kulihat sedang sibuk melayani calon pembeli. Ibu Hj. Sri Wahyuningsih ini sangat antusias menjawab segala rasa penasaranku mengenai apa-apa saja yang dijual berikut harga-harganya. Dengan lugas ia menjelaskan jenis-jenis  produk yang dijual berikut harganya. Untuk DVD ceramah, harganya berkisar Rp.15.000,- hingga Rp.20.000,-. Tasbih berkisar dari Rp.10.000,- hingga Rp.15.000,-. Gelang harganya serba goceng alias Rp.5.000,-, Siwak berkisar antara Rp.5.000,- hingga Rp.10.000,-, berbagai merek minyak wangi non alkohol harganya berkisar Rp.5.000,- hingga Rp.10.000,-. Aku tersenyum-senyum melihat satu per satu nama mere-mereknya. Ada merek lima waktu, sarah jelita, kenanga, mistik hitam, jovic, hugo bos, spalding, eternity, paris Hilton, piere cardin, vanilla, adidas, dan melati putih. Barang dagangan yang dijual Bu Hj. Sri juga meliputi beraneka stiker, pin dan gantungan kunci yang harganya berkisar Rp.5.000,-. Tak lupa Bu Hj. Sri juga menjual barang-barang yang unik dan menarik bagiku seperti gaharu atau dupa cendana yang harganya sekitar Rp.20.000,-. Menurut Bu Hj. Sri, gahru ini berasal dari Mekkah dan ia membeli di sebuah grosir di kawasan Condet Jakarta Timur. Aku terkaget-kaget ketika tahu ada sebuah gelang dan tasbih yang kayunya dipercaya berasal dari peninggalan Nabi Nuh dan Nabi Musa as. Gelang dan tasbih ini harganya tentu saja sesuai dengan predikat yang disandangnya, yaitu kayu peninggalan Nabi Nuh dan Nabi Musa. Bu Hj. Sri berani menjual di lapaknya dengan harga Rp.50.000,- untuk gelang dan Rp.300.000,- untuk tasbih. Menariknya lagi dengan bangga ia menyebut bahwa gelang dan tasbih tersebut didatangkan secara ekslusif dari Maddinah. Masya Allah aku benar-benar terpana oleh penjelasan bu Hj. Sri yang dengan mantapnya menjajakan barang dagangannya dan aku rasa ia sudah menerapkan ilmu marketing yang jitu. Ehmmm.. tak usah repot-repot belajar ilmu marketing di bangku kuliah kali ya? Ujarku dalam hati.

Outlet resmi penjual aksesoris Majelis rasulullah
Outlet resmi penjual aksesoris Majelis rasulullah

Ibarat sayur tanpa garam rasanya, apabila aku tidak bertandang ke sebuah lapak berikutnya yang menjual aneka souvenir, aksesoris dan pernak-pernik Majelis Rasulullah Saw. Rupanya segala perlengkapan tersebut dijual dalam outlet resmi milik Majelis Rasulullah Saw. Kios Nabawi namanya, kios yang baru berdiri dua tahun lalu ini beralamat di Jalan Pancoran Barat II, Kalibata, Jakarta Selatan.  Kios Nabawi menjual berbagai macam atribut mulai dari jaket yang harganya berkisar dari Rp.95.000,- hingga Rp.100.000,-, Rompi dibandrol seharga Rp.75.000,-, stiker/skotlet berkisar Rp.3.000,- hingga Rp.10.000,-, helm ekslusif Majelis Rasulullah Saw yang diproduksi oleh pabrikan BMC. Dan dengan bangganya crew Kios Nabawi menambahkan kalau helm ini adalah hasil kerjasama antara Majelis Rasulullah Saw dengan pabrikan BMC dan kualitas helmnya sesuai SNI, kira-kira begitulah ia menjelaskan padaku. Helm ini dipatok seharga Rp.90.000,- hingga Rp.115.000,-. Hatiku tergerak penasaran dan terlontarlah pertanyaan berapa omset yang diperoleh Kios Nabawi dalam setiap kegiatan semacam ini. Sambil berpikir kedua crew Kios Nabawi, langsung saja menembak omset keuntungan yang didapat berkisar 1 juta rupiah ke atas dan hasil keuntungannya dialokasikan untuk produktivitas Majelis Rasulullah Saw dalam berdakwah. Tidak hanya mempunyai outlet saja, Majelis Rasulullah SAW juga menjahit sendiri jaket di konveksi milik Majelis, begitu ujar crew Kios Nabawi.

Malam pun semakin larut, tak terasa malam minggu ini membuatku terdampar di sebuah perhelatan Tabligh Akbar yang tak pernah sedikit pun terencana dan tiba-tiba saja berlangsung secara spontan, dan apa yang aku lihat ini merupakan kerumunan massa yang anonim. Terlepas dari sepakat atau tidak sepakatnya aku mengenai acara tersebut, terutama mengenai ‘sosok habib’ yang selama ini—dan hingga saat ini belum mendapatkan tempat di hatiku—namun, di sini ada sebuah pengalaman dan pengetahuan baru seperti kisah tasbih dan gelang peninggalan Nabi Nuh dan Nabi Musa AS tadi, di mana daam pikiranku terus berkecamuk mengenai kesahihan benda itu.

Sumber :
http://akumassa.org/program/ciputat-tangerang-selatan/ada-majelis-souvenir-di-jurang-mangu/

1 comment
  1. majelis rasulullah saw ni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: