Art Shop Padati Juanda Ciputat, Tangerang Selatan

Oleh : Rommy Rahmandy Lesmana & Era Canggih Tatit Anggoro

Foto : Dwi Anggraini Puspa Ningrum

Berbicara tentang Ciputat pasti orang langsung menyebut macet dan sampah. Selain dua hal tersebut Ciputat memiliki keunikan dan ketertarikan khusus terhadap sesuatu, yaitu tumbuh dan berkembangnya Ciputat menjadi sentral penjualan dan importir mebel berbahan kayu serta barang-barang antik yang terbuat dari kayu, porslen, keris, batu atau patung dan tentu saja tidak ketinggalan lampu kristal jaman peninggalan kolonial Belanda.

Salah satu Art Shop yang berada di Jalan Ir. H. Juanda, CiputatSalah satu Art Shop yang berada di Jalan Ir. H. Juanda, Ciputat

Bahan bahan mebel berasal dari Jawa. Negara-negara yang menjadi pasar ekspor adalah Negara Eropa, seperti Belanda, Jerman dan Negara-negara Eropa lainnya. Sedangkan dalam kawasan Asia sendiri pernah mengekspor ke Australia dan Filipina. Selama lima semester sudah atau 2 tahun lebih, aku pulang-pergi kuliah melewati Jalan Ir. H. Juanda yang selalu disuguhi pemandangan macet, dan kesemrawutan jalan.  Tanpa disadari, dari arah Lebak Bulus menuju Pasar Ciputat kita pun akan melihat pemandangan banyaknya kayu-kayu lapuk, barang-barang yang terlihat kuno, patung  dan benda antik lainnya.

Cikal bakal tumbuhnya toko-toko barang antik dan mebel kayu atau akrab dengan sebutan ‘art shop’ (toko benda seni) yang tumbuh dan berkembang di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda dewasa ini berasal dari usaha almarhum Bapak Haji Abdullah dan Bapak Haji Taman padan tahun 1974 yang mendirikan toko Madura Art Shop. Seiring dengan bergulirnya waktu, usaha ini mengalami perkembangan dengan merambahnya usaha sejenis di sepanjang Jalan Raya Ciputat sebelum berubah nama menjadi Jalan Ir. H. Juanda pada tahun 1980. Saat ini Ciputat dengan Jalan Ir. H. Juanda dikenal sebagai sentral penjualan art nasional, dari sekitar 50-an galeri berdiri di sepanjang Jalan Juanda, hanya setengahnya yang masih bertahan sampai saat ini. Mereka banyak ‘gulung tikar’ akibat krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1997. Padahal sebelum krisis melanda, para perajin di sekitar sering mengadakan pameran dan pelelangan di Hotel Indonesia (HI) bekerja sama dengan Kedutaan Jerman. Art Shop

Art Shop

Para perajin lebih mengutamakan kayu jati sebagai bahan dasar ketimbang kayu lainnya. Karena  teksturnya yang padat, tidak mudah terkena rayap dan tidak mudah lapuk jika sering terkena air, sehingga kayu jati bisa bertahan hingga puluhan tahun. Selain kayu jati banyak juga ukiran yang menggunakan kayu sono keling, cendana, gaharu, kayu papan, kayu ambon dan mahoni. Bagi mereka, dengan tumbuh dan berkembangnya toko yang sama-sama menjual usaha sejenis (barang antik dan mebel), tidak menjadi masalah karena mereka menyakini bahwa setiap toko memiliki kualitas yang berbeda dan tingkat artistik yang beda pula, tergantung bagaimana konsumen menilainya saja dengan selera mereka.

Kebanyakan pemilik art shop di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda berasal dari Madura dan Jawa, meskipun ada juga yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Bali dan sebagainya. Usaha ini mengalami kemajuan pada masa-masa krisis moneter yang waktu itu menimpa bangsa Indonesia dari tahun 1997 sampai dengan 1999. Pada saat itu karena nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing khusunya Dolar Amerika menurun drastis sehingga kurs Dolar terhadap Rupiah menguat, maka tentu saja sangat menguntungkan terhadap usaha ini karena kebanyakan pembelinya merupakan orang asing.

Art Shop

Art Shop

Barang antik yang dijual rata-rata sudah berumur lebih dari seratus tahun. Barang-barang antik tersebut kebanyakan berasal dari kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di tanah Jawa, sebut saja seperti Kerajaan Singosari, Majapahit, dan sebagainya. Jenis-jenis barang antik tersebut meliputi keris kerajaan, arca atau patung dan kotak perhiasan. Kalau kita berbicara tentang barang-barang antik, maka yang terlintas di pikiran kita, apakah benar barang antik yang diperjual-belikan itu benar-benar murni barang antik, bukan barang tiruan? Aku sempat bertanya mengenai pembusukan yang banyak dilakukan oleh para perajin untuk lebih menambahkan kesan artistik, kuno dan antik pada barang kerajinannya dengan cara cepat.

“Pak cara ngebedain barang yang benar-benar asli barang antik dengan yang bukan atau palsu tuh gimana ya Pak caranya? Biar nanti kalau saya beli di tempat lain nggak ketipu.” Tanyaku pada Pak Muhammad, pemilik Maulana Art Shop.

“Ya kamu pegang aja, terus kamu raba, orang kalo melihat juga pasti tahu itu benar barang antik atau bukan,” jawab Pak Muhammad.

“Tapi Pak, saya kan belum punya pengalaman ngebedain mana barang antik asli atau bukan,”

Yah susah kalo situ belum punya pengalaman. Orang kaya saya saja yang sudah punya pengalaman masih bisa ketipu, apalagi situ,” ujar Pak Muhammad.

Art Shop

Art Shop

Itulah sekilas pembicaraan saya dengan Bapak Muhammad, anak dari pemilik Toko Galeri Maulana Art Shop mengenai cara membedakan antara barang yang benar-benar asli barang antik dengan barang yang dibuat menyerupai barang antik. Merasa tidak puas, aku berusaha mencari tahu tentang proses pembusukan pada art shop lainnya. Sungguh sulit memperoleh informasi tentang pembusukan barang antik, karena hampir semua pemilik art shop sangat berhati-hati ketika bercerita tentang barang-barang antik yang ada di tokonya. Pembusukan sendiri adalah upaya perajin agar mebel terlihat sangat antik seperti sudah berusia puluhan tahun. Tidak sia-sia, aku bertanya mengenai pembusukan yang banyak dilakukan oleh para perajin untuk lebih ‘mengartistikkan’ kerajinannya dengan cara cepat kepada Imam, salah seorang yang sudah menggeluti bidang wirausaha barang antik selama 20 tahun. Imam pun tidak memungkiri kalau banyak perajin melakukan proses pembusukan tersebut, akhirnya aku memperoleh informasi tentang proses pembusukan itu yaitu, dengan cara :

1.    Kayu direndam air selama beberapa lama, bisa juga dengan cara dilumuri oli bekas atau membiarkannya diluar ruangan sehingga terkena air hujan dan terkena panas matahari. Biasanya untuk menjadi sebuah karya, kayu dipahat, diberi dempul putih (untuk mengisi sela-sela kayu yang tidak rata), setelah itu diampelas dan dijemur.

2.    Barang tersebut harus dicelupkan kedalam air PK (sejenis cairan antiseptik; Larutan serbuk yang dicampur dengan air mandi untuk penderita yang menderita gangguan kulit seperti gatal, kudis, dan lain-lain-www.dechacare.com).

3.    Dijemur di halaman rumah, harus terkena air hujan dan panas sampai berubah warna menjadi kotor dan berlumut, setelah itu lumutnya dibersihkan.

4.    Letakkan di pojok kamar mandi agar terkena air dan lembab sampai benar-benar terlihat seperti patung tua.

5.    Tahap terakhir adalah memberikan cat warna atau diplitur agar terlihat cokelat, antik, bersih dan artistik. Semua proses ini memakan waktu cukup lama, apalagi jika harus menunggu kayu menjadi tua, berserat dan terlihat lapuk.

Barang kebanggaannya adalah sebuah lukisan seharga 10 juta rupiah yang didapatkan dari anak seorang pelukis terkenal Antonio Blanco, dan juga (Ssstt… ini sangat rahasia) sebuah batangan kuningan bergambar Nyi Roro Kidul, didapatkannya seharga 5 juta rupiah. Ternyata saat dia menggosok dan membersihkannya, batangan itu adalah sebuah emas murni. Emas batangan itu ditawar oleh seorang wisatawan Korea. Dia memberikan harga 10 miliar rupiah. Satu-satunya barang yang tidak ia letakkan di ruang pamer dan menjadi ‘kuncian’ jika suatu saat galerinya sepi dan akan menutup usahanya.

Art Shop

Tidak hanya orang-orang pribumi saja yang memburu barang-barang antik dan langka, tetapi juga wisatawan luar negeri dari Arab, Pakistan, India, Korea, Jepang dan lainnya. Bahkan art shop di sepanjang Jalan Ir .H. Juanda telah terkenal sampai ke negeri  yang pernah menjajah kita selama lebih dari 350 tahun, Negeri Kincir Angin, Belanda.

Kini art shop sekitar Jalan Ir. H. Juanda tidak seramai dulu, para perajin hanya bisa bertahan hidup dengan mengandalkan pembeli yang kian hari kian sedikit atau dengan membuat bantalan rel kereta api pesanan PT. KAI. Mereka hidup di tengah ketidakpastian mempertahankan galeri sepi pengunjung atau ‘gulung tikar’.

Sumber : http://akumassa.org/program/ciputat-tangerang-selatan/art-shop-padati-juanda/#more-3660

3 comments
  1. antik, apakah berarti peninggalan sejarah??

  2. jadi penasaran pengin lihat pasar tersebut , salam kenal ya mas

  3. Zeck sudiroo said:

    emm..seperti nya jalan ini yg sering saya jumpai ya?
    tapi indah n eksotik full history art shop itu
    SEMANGAT BRO N SIST c.u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: