Rangkaian Acara Malam Tahun Baru Komunitas Djuanda


Rangkaian Acara Malam Tahun Baru Komunitas Djuanda

Oleh Jayu Julie dan Choiriel Chodri

Pada Senin, 3 Januari 2011

* * *

Selalu ada pesta untuk tahun baru, karena memang telah menjadi tradisi yang mengakar kuat bagi masyarakat untuk merayakan setiap hal yang ‘baru-baru’. Entah itu secara mewah ataupun hanya secara sederhana, yang pasti judulnya tetap pesta penyambutan tahun baru. Semua orang seperti tenggelam dalam euphoria ini dan antusias untuk menghitung sisa detik 2010 dalam gegap gempita di puncak malam.

Soft launching www.galeritangsel.com dan pameran simple ciputat

Tak terkecuali aku dan teman-teman Komunitas Djuanda yang telah jauh hari mematangkan rencana untuk mengadakan acara penutupan dan pembukaan tahun. Dan kali ini sangat spesial, karena bersamaan dengan launching-nya website www.galeritangsel.com. Jurnal online ini merupakan salah satu program Komunitas Djuanda untuk menyebarkan informasi kepada publik mengenai Kota Tangerang Selatan. Berbagai informasi mengenai kuliner, tempat wisata, komunitas, dan lainnya yang ada di Tangerang Selatan dapat didapatkan dalam jurnal online ini.

Rapat panjang dan alot terus bersambung dari hari ke hari mengenai acara ini, hingga akhirnya seminggu sebelum hari H kesepakatan pun didapat. Kami sepakat untuk membungkus acara ini dengan nama Soft Launching www.galeritangsel.com dan Pameran Foto Simple Ciputat.

Acara ini bertempat di Jalan Mandor Baret, tepatnya di kompleks kontrakan Haji Yusuf, yang juga merupakan kantor Komunitas Djuanda. Konsep acara dibuat sederhana serta melibatkan masyarakat sekitar. Panitia pun disusun dan disahkan. Undangan pun disebar melalui selebaran dan jejaring sosial. Selain itu kami juga memanfaatkan speaker masjid di dekat kantor untuk mengundang warga sekitar.

warga sekitar sedang melihat pameran simple ciputat

Untuk memeriahkan acara ini, kami tidak memerlukan budget yang banyak karena beberapa orang dari kami bersedia menyumbang peralatan dan konsumsi. Antusias warga Mandor Baret pun sangat tinggi, mereka dengan sukarela turut serta membantu terlaksananya acara.

Pukul 7 malam waktu setempat, lokasi acara selesai disiapkan. Foto-foto yang akan dipamerkan telah rapi terpajang di tembok. Ada pula 3 televisi yang disediakan untuk memutar kompilasi video akumassa dan 2 video terbaru Komunitas Djuanda, yaitu PEMIRA UIN dan Town House.

Menonton video

Para panitia pelaksana pun sudah siap dengan kostum kebanggaan, yaitu kaos putih bertuliskan “galeritangsel.com”. Halaman jurnal online www.galeritangsel.com juga sudah manis terpampang di 3 laptop yang dapat diakses oleh para pengunjung pameran.

Pengunjung mengakses www.galeritangsel.com

Selain diramaikan oleh warga sekitar, soft launching dan pameran ini juga dihadiri oleh teman-teman dari Komunitas Sastra Senjakala, Forum Lenteng dan teman-teman akumassa dari Komunitas Anak Seribupulau-Blora dan Komunitas Kinetik-Surabaya.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Pelaksana, Annisa Rafianto, lalu Direktur Komunitas Djuanda, Ray Sangga Kusuma, dan dilanjutkan oleh Pemimpin Redaksi www.galeritangsel.com, Farabi Ferdiansyah. Tak keinggalan perwakilan dari masyarakat sekitar yaitu, Bapak Mufti.

Bapak Mufti selaku perwakilan warga Mandor Baret menyampaikan sambutan

Ray Sangga Kusuma selaku Direktur Komunitas Djuanda menyampaikan sambutan

“Dengan ini, www.galeritangsel.com resmi diluncurkan!” Kata-kata penuh semangat dari Eni Wibowo selaku MC acara menjadi ujung tombak acara pembuka. Dengan begitu maka website kami pun resmi mengudara dan dapat langsung diakses oleh publik secara luas. Tepuk tangan meriah dan ucapan selamat dari para tamu dan rekan yang hadir menjadi rasa bangga tersendiri atas kerja keras kami mempersiapkan website ini.

Ketika kami sedang mempersiapkan ayam dan ikan bakar untuk makan bersama, tiba-tiba terdengar letusan kembang api dari berbagai penjuru. Tak terasa pergantian tahun pun berlangsung, tepat pukul 00.00 WIB. Kami pun tak mau kalah meluncurkan kembang api ke langit. Warna-warni yang tercipta di langit malam pun menambah kental suasana malam tahun baru 2011 ini. Mata kami langsung tertuju ke pesta kembang api, ada pula sebagian teman-teman yang mengabadikan momen tersebut dengan kameranya masing-masing.

Setelah puas menikmati ‘taburan’ kembang api di langit, kami memutuskan untuk makan bersama di atas daun pisang.Acara makan bersama ini berlangsung dengan sangat seru. Tangan-tangan saling berebut lauk diselingi canda dan tawa yang hangat.Setelah makan kami berbincang ringan. Lalu tak lupa kami mengabadikan momen itu dengan berfoto bersama. Tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 01.42 WIB. Para tamu dan rekan mulai berpamitan untuk pulang. Namun, ada juga beberapa warga sekitar yang melanjutkan acara dengan menonton TV bersama di halaman Komunitas Djuanda. Kami sangat senang karena acara ini berlangsung dengan sukses. Semoga www.galeritangsel.com dapat diakses secara luas dan berguna bagi masyarakat. Jurnal online ini sekaligus menjadi kado akhir tahun bagi kami, Komunitas Djuanda. Semoga tahun 2011 ini membawa berkah dan keceriaan bagi semua.

3 Januari 2011 at 12:23 2 komentar

PEMIRA UIN Syarif Hidayatullah

PEMIRA UIN Syarif Hidayatullah
Oleh Renal Rinoza Kasturi & Dwi Anggraini Puspa Ningrum
Pada Senin, 31 Mei 2010
* * *

Bulan Maret hingga Mei 2010 adalah bulan yang disibukkan oleh penyelenggaraan pesta demokrasi di kampus UIN Syarif Hidayatullah. Gegap gempita pesta demokrasi di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun ini memasuki usia yang ke 11 tahun penyelenggaraannya.

Kampanye salah satu partai peserta PEMIRA
Kampanye salah satu partai peserta Pemilihan Umum Raya Kampus (PEMIRA)

Peristiwa Reformasi Mei 1998 turut andil dalam pembentukan sistem demokrasi di kampus UIN Syarif Hidayatullah yang sebelumnnya menganut sistem Senat Mahasiswa. sistem pengganti senat itu disebut sistem Student Government (SG)  atau pemerintahan mahasiswa. Periode-periode awal sistem SG yang dimanifestasikan ke dalam Pemilihan Umum Raya Kampus atau disebut dengan PEMIRA sebagai representasi sistem Student Government yang berdaulat, mahasiswa mempunyai kedaulatan politiknya di kampus. Sejarah gerakan mahasiswa Indonesia begitu panjang untuk aku ceritakan di sini, aku ingin menjelaskan sedikit yang berhubungan dengan keadaan perpolitikan di kampusku, ya kalau kita ingat sejak peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974 terjadi kerusuhan massal anti Jepang dengan membakar mobil-mobil Jepang dan yang memulai gerakan ini ialah mahasiswa, kemudian peristiwa di tahun 1978 mahasiswa berdemonstrasi besar-besaran sehingga pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan SK penerapan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) yang meminimalisir kehidupan perpolitikan mahasiswa di kampus dengan kebijakan tersebut kampus bukanlah arena wacana politik melainkan tempat pendidikan dan penelitian sehingga di zaman orde baru kita mengenali apa yang disebut sebagai wawasan almamater dan ada beberapa kampus yang saya lihat masih menancapkan plang wawasan almamater seperti di kampus IKJ (Institut Kesenian Jakarta).

Bagi aktivis mahasiswa di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sistem SG adalah keniscayaan sejarah karena tumbangnya rezim orde baru yang melahirkan reformasi adalah bagian dari perjuangan mahasiwa dalam mengawal perubahan. “Siapapun yang ingin membubarkan sistem ini (SG) kita siap mempertahankannya sampai titik darah penghabisan”, begitulah salah satu pernyataan salah satu mahasiswa dalam forum debat Capres yang dihadiri ratusan mahasiswa UIN Jakarta. Di lingkungan kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta budaya politik yang dibangun berdasarkan sentimen ideologis.

Bilik Suara PEMIRA UIN
Bilik Suara PEMIRA UIN

Aku yang sudah lumayan lama kuliah di kampus UIN Jakarta melihat fenomena PEMIRA sebagai sesuatu yang unik dan mungkin tidak dapat ditemui di kampus lain, di sini aura politiknya kental sekali. Masing-masing organisasi ekstra saling berlomba-lomba mendapatkan kader yang banyak melalui perekrutan anggota baru, apalagi menjelang PEMIRA masing-masing organisasi ekstra saling berkompetisi merebut ‘pasar’ potensial mahasiswa. Bagiku tujuannya sudah jelas setiap mahasiswa yang direkrut menjadi anggota baru organisasi ekstra adalah amunisi yang melimpah untuk siap bertempur dalam PEMIRA. Jumlah massa begitu penting artinya untuk menunjukkan harga diri dan kepercayaan diri karena banyaknya massa akan memperkuat mereka. Ya, aku melihat ini betapa heroik dan emosionalnya ketika massa berkerumun menggelorakan api perjuangan, massa dalam kapasitasnya dijadikan api pembakar ideologis, jadi dalam suasana seperti itu psikologi massa akan melebur menjadi satu, itulah letak kekuatannya. Aku yang mengamati fenomena itu benar-benar menyaksikan suasana psikologi massa yang larut dan lebur.

Kampanye salah satu partai peserta PEMIRA UIN
Kampanye salah satu partai peserta PEMIRA UIN

Psikologi massa seperti itulah yang aku saksikan bersama teman-teman ketika meliput PEMIRA. Kami merekam dan memotretnya sebagai bagian dari dokumentasi sejarah kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Segala intrik, friksi dan provokasi-provokasi ditambah dengan atribut-atribut parpol berikut komentar-komentar mahasiswa turut terekam dan terpotret oleh anak-anak Komunitas Djuanda. Ironisnya yang merekam fenomena akbar ini begitu sedikit, terutama yang merekam menggunakan kamera video. Memang ada beberapa mahasiswa yang merekam menggunakan kamera video tapi tidak secara komprehensif dalam merekamnya.

Renal Rinoza Katuri


Berbagai Cerita Saat Meliput PEMIRA

“Inilah pesta demokrasi bagi kami para mahasiswa…!”

Capres partai Parma sedang memberikan orasinya

Sebuah seruan menggelegar di seluruh ruang hingga sudut kampus UIN Syarif Hidayatullah. Kini kedua kalinya aku melihat sebuah realitas politik di kampusku yang sangat mirip dengan sistem parlementer Negara kita. Spanduk-spanduk besar, baliho, poster, pamflet yang memperlihatkan wajah-wajah kandidat tersebar di seluruh area kampus hingga sebuah gang kecil bernama Pesanggrahan yang berada di samping kampus menjadi lahan kampanye PEMIRA.

Para aktivis kampus yang notabenenya adalah anggota BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kembali memperebutkan kursi pemerintahan kampus. UIN Syarif Hidayatullah yang memiliki enam partai besar seperti Partai Reformasi Mahasiswa (PARMA) yang didirikan oleh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang mendirikan Partai Persatuan Mahasiswa (PPM), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang mendirikan Partai Progressive, KAMMI/LDK (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) yang mendirikan Partai Intelektual Muslim (PIM) dan KM UIN (Komunitas Mahasiswa) Jakarta yang dahulu bernama FORKOT (Forum Kota) penggerak aksi demonstrasi mahasiswa mendirikan Partai Boenga.

Para kandidat Presiden & Wakil Presiden BEM UIN
Para kandidat Presiden & Wakil Presiden BEM UIN

PEMIRA kali ini adalah kesempatan pertama bagiku untuk memilih mereka-mereka yang nama dan wajahnya terpampang di berbagai area kampus, karena PEMIRA hanya diperuntukkan bagi mahasiswa semester empat hingga semester empat belas (semester di mana seharusnya para mahasiswa sudah menyelesaikan studi).

Masa pemilihan dibagi menjadi dua, Legislatif dan Eksekutif. Dalam pemilihan Legislatif mahasiswa diminta untuk memilih DPMJ (Dewan Perwakilan Mahasiswa Jurusan), DPMF (Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas) dan DPMU (Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas) dari ke enam partai tersebut. Sekelumit cerita dariku sebelum masa pemilahan legislatif dan eksekutif berlangsung, setiap malam hari aku sering kali mendapatkan SMS gelap yang menjatuhkan partai lain. Contohnya sebuah pesan singkat ini,

“Salam reformasi!! kawan-kawan mahasiswa tentunya sudah tahu siapa yang layak menjadi pemimpin kampus kita ini. Jangan sembarang pilih kawan-kawan!! Siapa itu Isbat? Kuliah jarang masuk, baju ngga pernah rapi, ngga pernah ngerjain tugas. Siapa itu Nafiz? Sama aja kuliah jarang masuk”.

Sebegitu berharganya tahta kekuasaan politik hingga SMS seperti ini sering kali kuterima, sebuah black campaign pikirku. Setelah ditelusuri nama-nama yang ada dalam SMS, itu adalah Capres dan Cawapres dari Partai Persatuan Mahasiswa (PPM). Terlihat sedikit santai, PPM yang tahu tentang tersebarnya SMS gelap itu ke beberapa mahasiswa FIDKOM (Fakultas Ilmu Dakwah dan komunikasi) membalas dengan sebuah pesan singkat berisi

“Untuk perubahan yang lebih baik, hari Kamis pilih yang Jitu.. No.1 PPM”.

Dan Partai Reformasi Mahasiswa (Parma) kembali membalas

“Jurnalistik satu suara, demi kepentingan kita semua. Ayo..satukan suara, pilih Ncex (BEMJ), Sabir (BEMF) dan Otoy (BEMU), kita melangkah maju bersama… dengan pemikiran-pemikiran bersama, setuju? Bales..!! (bhotel), tolong sebarkan ke yang lain ya minimal 5 atau 10 mahasiswa”.

Partai PARMA dan PPM memang dikenal sebagai partai yang selalu bersitegang, itulah SMS-SMS aneh yang sering kuterima setelah lewat jam 12 malam dan masih banyak SMS nyeleneh lainnya dari berbagai partai. Belum lagi kampanye melalui jejaring sosial facebook yang merajalela di seluruh mahasiswa. Ini menunjukan sedang zamannya manusia addicted dengan facebook dan memanfaatkannya sebagai alternatif yang sangat berpengaruh sebagai media persuasif terhadap publik.

Berbagai hiasan dekoratif selama kampanye berlangsung
Berbagai hiasan dekoratif selama kampanye berlangsung

Cerita lainnya adalah bagaimana aku dan teman-teman Komunitas Djuanda merekam. Jauh-jauh hari sebelum PEMIRA ini berlangsung, peliputan tentang PEMIRA kampus sudah masuk ke dalam agenda kerja kami, dan inilah saatnya, meliput dan merekam PEMIRA mulai dari masa kampanye, pemilihan hingga penghitungan suara.

Saat meliput kampanye tidak ditemukan hambatan, beda halnya saat merekam massa pemilihan, di sinilah masalah-masalah berdatangan, rupanya KPU sangat mewaspadai media intra maupun ekstra kampus yang meliput momen ini dengan dalil KPU secara khusus menyediakan web khusus PEMIRA (www.kpuuinjkt.org) bagi yang ingin mengakses berita seputar PEMIRA UIN.

Proses penghitungan suara
Proses penghitungan suara

Aku yang merekam momen pemilihan di fakultas FIDKOM sempat dihampiri oleh seorang panitia yang meminta agar hasil liputanku tidak disebarluaskan sebelum pihak KPU melihatnya, rasa ingin tertawa mendengar ucapan panitia pelaksana itu tidak dapat kutahan, begitu takutnya mereka dengan pemberitaan media terhadap citra mereka yang sebenarnya memang mengusung arogansi terhadap kekuasaan. Pada saat pemilihan berlangsung terjadinya chaos (kekacauan) sudah diprediksi oleh Komunitas Djuanda melihat pengalaman PEMIRA sebelumnya. Aku bersama teman-teman Djuanda yang merekam masa pemilihan ini mendapatkan hujaman dan ancaman dari salah satu partai untuk tidak merekam kekacauan, kericuhan, dan sorak-sorai keributan antar partai.

Kerusuhan tak dapat dihindari lagi
Kerusuhan antar massa pendukung partai

Seperti yang sudah, bentrok antar partai terjadi di PEMIRA tahun ini. Keributan terbesar terjadi Sabtu. Jelang sore hari berdatanganlah massa dari PARMA yang menuntut penghitungan suara untuk Fakultas Ushuluddin ditunda karena sebelumnya KPU atas Surat Keputusa (SK) dari MPU mendiskualifikasi suara PARMA di dua Fakultas, Tarbiyah (Keguruan) Non Reguler dan Ushuluddin. Kemudian menjelang maghrib massa PARMA kembali lagi mendatangi tempat pemungutan suara di aula SC (Student Centre) menuntut hal yang sama, kali ini lebih mengancam KPU dan akhirnya penghitungan suara pun ditunda.

Bentrok antar massa
Bentrok antar massa

Pada malam hari penghitungan suara akan dilanjutkan, namun sebelum dilanjutkan tepat pada pukul 00.20 WIB massa PPM merapat dan membuat border (barisan pasukan) sambil meneriaki yel-yel dan mars partainya, keriuhan massa PPM mendapat balasan dari massa PARMA yang akhirnya dua partai besar ini saling berhadapan-hadapan dan saling meneriaki yel-yel sebagai simbol ketangguhan mereka, sebagian massa PPM selain meneriakan yel-yel mereka juga bershalawat. Entah karena faktor apa, kemungkinan emosi yang menggila pada KPU membuat massa PARMA berjalan ke pintu utara aula SC secara bergerombolan hingga akhirnya mereka berhasil menjebol pintu yang dijjaga oleh kemanan kampus. Beberapa kadernya langsung meluapkan kemarahannya kepada KPU, setelah itu massa PARMA mundur dari ruangan aula SC dan menunggu di luar sambil mengobarkan panji-panji partainya.

Karena sudah larut malam,  akhirnya pihak KPU menunda penghitungan suara sampai Selasa. Pada saat kami meliput, dini harinya kembali terjadi keributan-keributan, di mana PARMA masih pada tuntutan yang sama. Kira-kira pukul 04.00 WIB pihak KPU menunda kembali penghitungan suara karena massa sudah tak terkendali.

Salah satu kader partai meluapkan amarahnya kepada KPU
Salah satu kader partai meluapkan amarahnya kepada KPU

Siang harinya aku mendapat kabar bahwa penghitungan suara BEMU dimenangkan oleh PPM. PPM sesegara mungkin melakukan konvoi sebagai luapan kemenangan mereka. Berakhir sudah PEMIRA tahun ini dengan kemenangan di tangan PPM.

Ternyata kabar itu masih simpang kebenarannya. Keesokan harinya salah seorang anggota Komunitas Djuanda, Rizky Muhammad Zein, mendapatkan kabar bahwa di kampus satu terjadi keributan lagi untuk yang kesekian kalinya. Kali ini PARMA mendaulat dirinya adalah pemenang PEMIRA tahun ini, seluruh mahasiswa UIN yang berada di kampus saat itu dibagikan selebaran kertas yang berisi hasil penghitungan suara dari KPU. PARMA seketika melakukan konvoi seperti yang dilakukan PPM sebelumnya. Hal ini membuat masyarakat kampus terheran-heran dengan pemberitan PARMA memenangkan PEMIRA, padahal sesuai pernyataan KPU, PPM lah yang memenangkan PEMIRA tahun ini.

Capres PPM yang memenangkan PEMIRA UIN tahun ini
Capres PPM yang memenangkan PEMIRA UIN tahun ini

Dan ternyata keputusan KPU telah bulat, PPM memenangkan PEMIRA UIN Syarif Hidayatullah tahun ini.

Dwi Anggraini Puspa Ningrum

4 Juni 2010 at 22:56 1 komentar

Jalan Sampah

Oleh Silvia ‘Bociel’ Maulina
Pada Sabtu, 10 April 2010
***

Ketika terbangun di pagi hari, hal yang aku bayangkan adalah aktifitas yang menyebalkan yang akan kualami. Kuliah dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB, pulang naik angkot yang ngetem-nya lama, panas dan penuh sesak. Ditambah lagi aku harus melewati barisan panjang mobil dan motor yang terkena macet pada saat jam pulang kerja. Tapi hari ini aku beruntung, ada pangeran berkuda besi yang bersedia mengantarku pulang.

Tumpukan sampah di sekitar Pasar CiputatTumpukan sampah di sekitar Pasar Ciputat

Dalam perjalanan pulang aku dihadapkan pada sesuatu yang menurutku tidak biasa ketika melewati terowongan Pasar Ciputat. Barisan panjang mobil dan motor bertemu pada satu titik, yang menyebabkan macet total.

“Ada apa ini? Tidak biasanya macet total seperti ini,” tanyaku dalam hati.

Ih, kenapa nih? kok nggak bergerak?!” tanya orang yang memboncengiku.

Pikiranku semakin kacau, otakku semakin disibukkan dengan bebunyian tidak beraturan yang menurutku tidak perlu, yaitu suara-suara klakson mobil dan motor yang tiada henti menyakitkan kupingku. Untung ada pangeran berkuda dihadapanku, diri ini bisa saja dibuat tersenyum oleh ulahnya.

Sesampainya di ujung terowongan, aku melihat tumpukan sampah yang menutupi badan jalan menuju arah Ciputat. Sebelumnya, badan jalan terdiri dari dua sisi. Masing-masing lebarnya 5 meter, tapi kini satu badan jalan tertutup oleh padatnya sampah yang masalahnya tak kunjung usai.

Tumpukan sampah menutupi badan jalan menuju Ciputat dan  menyebabkan kemacetanTumpukan sampah menutupi badan jalan menuju Ciputat dan menyebabkan kemacetan

Melihat kejadian di luar batas kewajaran itu, insting jurnalis Faraby Ferdiansyah (Aby), si pangeran berkuda besi yang memboncengiku, langsung terpancing. Kebetulan ia sedang membawa kamera. Dia pun langsung memarkirkan motor dan mulai beraksi.

Aku tidak mau kalah dengannya,  ketika Aby sedang mengambil gambar, aku pasrahkan tubuh ini berada dekat sampah. Akuu mencari informasi dengan bertanya kepada orang sekitar perihal sampah yang menggunung itu. Aku berjalan menuju warung bubur kacang hijau yang berada tepat di samping tumpukan sampah, tapi ternyata tidak ada orang di sana.

Lalu aku menghampiri pria berkulit hitam dengan mata yang merah berkisar umur 27 tahun, aku bertanya padanya “Bang, sampah ini menumpuk sejak kapan?” Pria itu hanya tersenyum dan berkata “Saya nggak tau, Neng,” dari raut wajah dan badannya yang sempoyongan, aku berspekulasi bahwa pria ini sedang mabuk. Kemudian aku melihat bapak tua dengan rambut dan kumis yang telah memutih sedang berdiri tepat di samping tumpukan sampah yang menutupi badan jalan, dengan sok kenal aku menegurnya, “Assallamualaikum Bapak, apa kabar?” beruntungnya bapak itu sangat ramah dan menerima kehadiranku. Lalu aku membuka obrolan dengannya. Bapak tua tersebut bernama Ade, beliau berusia 60 tahun.

Menurut Pak Ade, sampah tersebut menumpuk sejak Jum’at, 26 Maret 2010 hingga hari ini selasa, 30 Maret 2010. Sampah di sekitar Pasar Ciputat tersebut tidak hanya berasal dari pedagang di Pasar Ciputat saja, tetapi juga berasal dari warga Ciputat. Biasanya mereka membuang sampah ketika hendak berangkat kerja. Mereka melintas di sekitar Pasar Ciputat dengan membawa sampah lalu dilempar begitu saja ke tumpukkan sampah yang ada. Tidak hanya itu, beberapa pedagang dan orang yang melintas sering meletakkan sampah di sepanjang trotoar Pasar Ciputat dan trotoar fly over, “Wah.. Neng, kalo Subuh dari ujung ke ujung sampah semua,” ucap Pak Ade.

Tumpukan sampah yang ada tidak hanya menutupi badan jalan, bahkan jalanan yang rusak dan berlubang pun tertutup oleh timbunan sampah. Tentu saja tumpukan sampah itu menimbulkan aroma yang tidak sedap dan dikhawatirkan menjadi sumber penyakit melihat banyaknya belatung yang muncul dari tumpukan sampah dan menjalar ke dalam Pasar.

Tumpukan sampah di depan sebuah sekolahTumpukan sampah dan macet di depanSekolah Puspita Bangsa, Ciputat

Volume sampah yang membludak tidak sebanding dengan datangnya truk pengangkut sampah, sehingga sampah bertumpuk dan menutupi badan jalan menuju Ciputat yang menyebabkan jalur menuju Kedaung macet total.

Menurut informasi yang aku dapat, truk pengangkut sampah di Pasar Ciputat ada dua, truk berwarna kuning yang biasa digunakan untuk mengangkut sampah di daerah Tangerang dan truk pengangkut sampah berwarna biru khusus wilayah Tangsel, namun ketersediaan truk ini pun kurang memadai.

Semenjak Tangsel (Tangerang Selatan) berpisah dengan Tangerang, Tangsel selalu bermasalah dengan sampah, karena Tangsel tidak mempunyai Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kemacetan yang terjadi di ruas jalan menuju KedaungKemacetan yang terjadi di ruas jalan menuju Kedaung

Selama ini sampah dari Tangsel dibuang ke wilayah Bantar Gebang, Bekasi, dengan membayar satu juta rupiah setiap mengangkut sampah itu. Namun hal ini nampaknya tidak berlangsung dengan baik hingga saat ini, sebab sampah-sampah masih menumpuk.

Beberapa waktu lalu, sempat terlihat mesin pengolah sampah yang disewa beberapa hari oleh Pemda setempat, tapi ternyata mesin tersebut tidak efektif untuk mengurangi sampah yang ada, hanya untuk menghaluskan/mengecilkan sampah, bukan mengangkut sampah.

Penumpukan sampah ini bisa menjadi peringatan bagi kita untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga lingkungan sejak dini.


Foto: Farabi Ferdiansyah

16 April 2010 at 11:44 Tinggalkan komentar

Punk Muslim

Oleh Farabi Ferdiansyah (Komunitas Djuanda) & Ariyanto ‘Petek’ (Anak Seribupulau) | Pada Selasa, 23 Maret 2010

P-U-N-K, mendengar keempat huruf itu, nampaknya ada sebagian orang yang akan menutup kuping, menutup mata ataupun ingin me-remove kata itu dari benaknya karena trauma atas perilaku negatif yang pernah dirasakannya atau takut karena melihat penampilan para anak punk.

Punk BloraPunk Blora

Kata ‘punk‘ sebenarnya biasa-biasa saja, namun yang membuat kata itu menakutkan adalah penganut kata-kata tersebut, atau penganut aliran musik keras yang selalu dikaitkan dengan punk. Entah benar atau tidak, banyak orang yang beranggapan dunia punk adalah dunia yang berkaitan tentang hal-hal yang dianggap negatif.

Di tempatku (Blora, Jawa Tengah), aku sudah terbiasa bergaul dengan anak-anak punk, karena mayoritas teman-temanku di Komunitas Anak Seribupulau adalah anak punk. Hampir bosan aku melihat anak punk, entah kutukan atau apa, setiap aku keluar kota, aku juga selalu menemui anak punk. Ironis? Tidak juga. Terlalu berlebihan? Sangat!

Punk BloraPunk Blora

Terkadang persepsi orang terhadap anak punk sangat berlebihan. Akulah saksi hidupnya, Ariyanto ‘Petek’ dari Blora. Aku sering bersama mereka, susah senang bersama, berkarya dan berkreatifitas bersama. Contohnya, dengan mendaur ulang sampah, memahat, cukil kayu menggunakan pisau (cutter), melukis, dan masih banyak lagi. Dan yang pasti menggunakan imajinasi kita sendiri. Ya mungkin itu gambaranku mengenai anak punk di daerahku, walaupun tampang mereka beringas, tapi kreatifitas mereka lebih beringas dari tampangnya. Nasi telah menjadi bubur, namun anak-anak punk di sekitarku mampu mengubahnya menjadi bubur yang enak sekali, walaupun jiwa mereka sudah berkarat dengan aliran punk, mereka tetap kreatif dan inovatif, itulah sebabnya mereka masih bisa bertahan dan berkarya hingga detik ini. Aku pun bersyukur bisa berada di sekitar mereka.

Cukil kayu karya Komunitas Anak SeribupulauCukil kayu karya Komunitas Anak Seribupulau

Setelah disinggung, aku mulai bertanya, apa itu punk? Dari mana asal mula aliran punk itu? Aku pun yakin mayoritas anak-anak punk tidak tahu sejarah aliran punk yang mereka anut. Hanya petantang-petenteng dan ikut-ikut saja.

Pertanyaanku pun terjawab oleh ‘Paman Google’. Dikatakan, punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Punk berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik, anti pemerintahan, idealis, kritis dan atheis.

Harus kuakui, awalnya mereka hanya ikut-ikutan saja, tidak tahu arti punk sebenarnya. Itulah yang dialami oleh anak-anak punk di seluruh Indonesia. Berbeda sekali dengan anak punk di Inggris, mereka bukanlah anak-anak yang hanya hura-hura dan meresahakan para penumpang bus kota, melainkan para politisi yang selalu membaca koran, kritis, idealis, dan pengawas bagi negaranya.

Di sinilah telah terjadi pergeseran makna mengenai punk sesungguhnya, yang dinodai oleh perbuatan dan penampilan yang tidak mengenakkan mata, apabila kita melihatnya.

Itulah sekilas tentang dunia punk di kota tempatku tinggal. Di Ciputat, Tangerang Selatan, ternyata ada sebuah fenomena punk yang juga sangat menarik, yaitu Punk Muslim.

Punk MuslimPunk Muslim

Punk Muslim?  Apa itu? Aneh-aneh saja, nampaknya hanya isapan jempol semata, karena menurutku aliran punk adalah aliran yang meniadakan keberadaan Tuhan, jadi mana mungkin bisa berkolaborasi dengan agama.

Ya, seperti itulah aku memfatwakan kata ‘Punk Muslim’. Sekilas aku menafsirkan anak-anak punk sebagai segerombolan anak muda yang anti kemapanan, hidup di jalanan, menjadi pengamen, tindikan dan tato menghiasi tubuh mereka, berpakaian serba hitam serta doyan mabuk-mabukan. Su’uzon? Mungkin, tapi menurutku tidak juga, karena pesan yang kutangkap dari perilaku dan bahasa tubuh mereka seperti itu.

Punk Islam sedang beraksi dalam AcaraPunk Islam sedang beraksi dalam Acara ‘Menelisik Lika-liku Kehidupan Punk Moslem’

Alhamdulillah, penafsiranku salah besar, ternyata tidak semua aliran punk maupun anak-anak punk seperti itu. Nampaknya stereotip itu tidak melekat pada Punk Muslim. Ya, aku megetahuinya dari acara ‘Menelisik Lika-liku Kehidupan Punk Moslem’ yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Syahid (LDK Syahid) di aula Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah (18/03). Dari talkshow tersebut aku mendapatkan ‘benang merah’ atas kegelisahanku, dan aku mulai meyakini, bahwa memang benar keberadaan Punk Muslim, dan kini tersebar di Indonesia (Jogjakarta, Palu, Semarang, Bengkulu, Indarmayu).

Merekalah Ahmad Zaki, Adi, dan (alm) Budi penggagas Punk Muslim.  Pada tahun 2002 (alm) Budi menceritakan kegelisahannya kepada Zaki (cendikiawan Muslim), (alm) Budi merasa gelisah, karena hidupnya sudah lanjut dan menyadari dosanya sudah banyak sekali, dan ia tidak mau neraka dipenui oleh anak-anak punk, maka ia mengusulkan agar dibuat pengajian bagi anak-anak punk yang dipimpin oleh (alm) Budi. Pada tahun itu terbentuklah pengajian rutin yang selalu dilakukan hari Kamis, sehabis shalat Isya. Alhamdulillah, itu berjalan, namun tidak beberapa lama Budi meninggal, Zaki tidak patah arang, Adi pun mendampingi melanjutkan perjuangan Budi.  Semakin lama, semakin banyak anak punk yang merapat kebarisan.

Ahmad ZakiAhmad Zaki (salah satu penggagas Punk Muslim)

Almarhum Budi, salah satu penggagas Punk MuslimAlmarhum Budi, salah satu penggagas Punk Muslim

Perjalanan Punk Muslim bukanlah semudah membalik telapak tangan, sudah banyak sekali tragedi-tragedi yang mengiris hati untuk menegakkan Punk Muslim, karena keberdirian Punk Muslim membuat para punkers gerah, para punkers mengecam para punkers Muslim ini, bahkan hingga harus adu jotos oleh preman Pulo Gadung, mereka kalah. Walaupun begitu idealisme Punk Muslim mereka tidak akan pernah padam, inilah yang layak untuk dikatakan sebagai anak punk. Bahkan kegigihan mereka tergambarkan ketika mereka terpaksa kehilangan base camp yang mereka gunakan untuk mengaji, tidak ada rotan akar pun jadi, mungkin itulah yang membuat mereka terus bertahan. Ketika mereka tidak mempunyai base camp untuk mengaji, halte dan taman pun disulap menjadi tempat mengaji mereka.

Darma Putra (Ambon)Darma Putra (Ambon)

Ambon, yang nama aslinya Dharma Putra, adalah salah satu anggota Punk Muslim yang berpendidikan pesantren. Sejak kecil, Ambon memang sudah terjun ke kehidupan jalanan, karena ada masalah internal dalam keluarganya. Walaupun sudah duduk di bangku pesantren, anak keturunan Kalimantan dan India ini tidak bisa meninggalkan dunia punk yang sudah mengalir di setiap aliran darahnya.  Ambon pun sudah lelah berbuat maksiat, tapi dunia punk terus membawanya ke ‘sana’. Ambon pun memilih jalan tengah. Ia pun menjadi bagian dari Punk Muslim. Banyak lagi, seperti Asep, Otoy dan lainnya, walaupun ada dari mereka yang bertato, tapi mereka tetap menjunjung tinggi keislaman mereka, walaupun mereka menyesali di akhir dan takkan mengucilkan mereka untuk beribadah.

Kawan, jangan mengira anak-anak Punk Muslim berpakaian baju muslim, berpeci atau memakai jilbab. Tidak Kawan, penampilan boleh urakan, tapi hati tetap Muslim. Filosofi yang sangat mendasar dari Punk Muslim adalah hadis nabi yang berbunyi, “sampaikanlah walau satu ayat.”  Walaupun mereka bertato, mereka mulai meninggalkan kebiasaan buruk mereka secara bertahap. “Yang dulunya lima botol, jadi tiga botol,” ucap Ahmad Zaki, selaku pembimbing Punk Muslim. Metode yang dilakukan Zaki bukanlah metode sapu jagad, tidak langsung mengatakan “Ini haram! Ini dosa!”, bukan itu cara berdakwah bagi anak jalanan, karena objek dakwah Zaki bukanlah orang yang bertipikal lembut, “Jika saya menggunakan cara itu, mereka pasti langsung kabur, nggak mau ngaji lagi,” ucap Zaki, “Di-Islamin, diurusin, dimandiin, disunatin, dikawinin dan dikuburin,” lanjut Zaki, sang penyejuk hati bagi para Punk Muslim.

Penonton Acara Menelisik Lila-Liku Punk MoslemPenonton Acara Menelisik Lila-Liku Kehidupan Punk Moslem

Melejit dengan cepat, itulah perkembangan Punk Muslim, semakin lama semakin melebarkan sayapnya ke seluruh Indonesia, walaupun kecaman terus mengganggu telinga mereka. Kini Punk Muslim akan meluncurkan album ke-duanya, setelah album pertama yang bertajuk Anarchy In The Dark Soul. Para anggotanya pun sudah banyak yang menikah dan bekerja.

Album pertama Punk Muslim 'Anarchy in The Dark Soul'Album pertama Punk Muslim ‘Anarchy in The Dark Soul’

Harapan Punk Muslim tidak muluk-muluk, hanya ingin anak-anak punk mengetahui filosofi mereka sebagai manusia, makhluk yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Terserah kalian berasal dari latar belakang apa, aliran apa, menguikuti kegiatan apa, asalkan kalian jangan melupakan al-hak, sebagai pemeluk agama.

Lalu bagaimana dengan anak punk di sekitar kalian, Kawan?
Apakah mereka hanya punk yang ikut-ikutan saja?

16 April 2010 at 11:32 6 komentar

Essai Pertamaku ; Boyong Kedhaton

,,,,Sebenarnya artikel yang kubuat ini hanya sekedar mengasah kemampuan diriku dalam photografi. Maklumilah kalau ada yang kurang, namun dengan terus mengasah niscaya tidak akan membuat diriku tumpul,,,,!!
Oleh : Mufti Al Umam | Pada Kamis, 19 Maret 2010

Pada Rabu, 17 Februari 2010, di Solo kembali digelar sebuah kirab sebagai acara puncak perayaan hari ulang tahun ke-265 Kota Solo. Terhitung sejak hari jadinya pada 17 Februari 1745 atau apabila menurut penanggalan Jawa jatuh pada hari Rabu Pahing 14 Sura 1670. Kirab ini bernama “Boyong Kedhaton”. Kirab ini bermaksud untuk menggambarkan kepindahan Keraton Kasunanan dari Kartasura ke Solo sampai perkembangan pemerintahan sekarang. Akupun menyempatkan diri untuk melihat kirab ke Solo.


Banner Boyong Kedathon ketika berada di lapangan Kota Barat

Pemain Reog sedang melakukan latihan

Pasukan Nyoro Blonyo

Pemukul Gong Reog

Polisi menertibkan para penonton di sepanjang catwalk Kirab

Replika Gunung Perempuan dan Laki-laki

Hanoman

Thuyul

Kerumunan penonton di Bundaran Gladag

22 Maret 2010 at 19:48 2 komentar

Tulisan Lebih Lama


Kalender Djuanda

Januari 2012
M S S R K J S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Kategori


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.